Rabu, 27 Juni 2012

MUSYKILAT QURRO' (Kajian Qur'any Margoyoso) Oleh Adzro' Hanimah


Pendahuluan

Al-Qur’an adalah kitab yang agung dan penyempurna bagi kitab-kitab sebelumnya. Ia hadir tidak hanya sebagai risalah, tetapi juga membawa misi i’jaz ( mewujudkan kemu’jizatan ). Salah satu manifestasi i’jaznya terlihat dari dipilihnya bahasa Arab sebagai bahasa kitab ini. Lebih definitif lagi, Al-Qur’an ini turun dalam lahjah (dialek) Quraisy kepada rasul yang Quraisy pula. Rahasianya adalah bahasa Arab merupakan bahasa paling kaya di dunia dan lahjah Quraisy adalah dialek induk bagi bangsa Arab yang mempunyai beraneka ragam lahjah. Selain itu, lahjah Quraisy adalah dialek yang paling mencakup semua dialek dalam Bahasa Arab.

Pada perkembangannya, al-Qur’an tidak serta merta ditulis dalam bentuk seperti yang kita jumpai saat ini. Dahulu, rasam al-Qur’an belum mengenal titik dan harakat. Karena itu, satu bentuk kalimat dapat terbaca berbeda oleh kalangan yang berbeda. Apalagi Rasulullah pada masa itu diperintahkan Allah untuk mengajarkan al-Qur’an apa yang mudah bagi tiap kaum dan tidak hadir dalam satu bentuk saja. Selain itu, hadits yang berkenaan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bacaan al-Qur’an hadir dalam bermacam-macam versi. Dari sini, –keluasan Bahasa Arab, rasam al-Qur’an, pengajaran Rasulullah dan versi-versi hadits inilah— muncul beragam riwayat dalam pembacaan al-Qur’an. Karena itu hingga kini, perbedaan-perbedaan itu tetap ada dan menjadi rahmat bagi umat Islam ( ختلاف أمتى رحمة إ ).

Namun bagi kalangan awam pada masa ini, perbedaan-perbedaan itu terkadang menjadi musykilat bahkan berbahaya ketika tidak tahu asal-usulnya. Belum lagi masalah perbedaan, masalah-masalah inti yang sering dijumpai di sekitar kita yang berhubungan dengan Al Qur’an yang sederhana saja tentu juga perlu kita ketahui dasar-dasarnya. Berikut adalah beberapa permasalahan yang galib di dunia Qurro’ (ahli membaca Al Qur’an).


Masalah Isti’adzah

Isti’adzah disebut juga ta’awwudz. Ada ulama’ yang menghukumi isti’adzah dalam membaca al-Qur’an sebagai sesuatu yang wajib. Akan tetapi, mayoritas ulama’ mengatakan bahwa isti’adzah sebelum membaca al-Qur’an hukumnya sunnah. Bagi yang menghukumi wajib, isti’adzah harus dilakukan minimal satu kali seumur hidup untuk menggugurkan kewajiban. Bagi yang menghukumi sunnah, dianjurkan untuk membaca ta’awwudz setiap kali akan membaca Al Qur’an. Dan pendapat inilah yang paling disepakati para ulama’.

Cara membaca ta’wwudz bermacam-macam, boleh dengan suara keras di semua tempat baca, boleh bersuara keras hanya di depan khalayak, boleh dengan suara lirih pada selain Fatihah dan boleh dengan suara lirih di semua tempat baca.

Adapun lafadh ta’awwudz yang paling utama adalah : أ عوذ با الله من الشيطان الرجيم  , sesuai hadits:


عن ابن مسعود رضى الله عنه أنه قال : قرأت على رسو ل الله صلى الله عليه وسلم فقلت أ عوذ با الله سميع العليم فقال لى قل يا ابن أم عبد : أ عوذ با الله من الشيطان الرجيم هكذا أقرأ نيه جبريل عن القلم عن اللوح المحفوظ.  وفى رواية هكذ ا أخذ تها من جبريل عن ميكا ئيل عن اللوح المحفوظ  أعوذ با الله من الشيطان الرجيم.                           


Ketika seorang Qori’ (pembaca al-Qur’an) memotong bacaannya untuk pembicaraan umum yang tidak berhubungan dengan al-Qur’an meskipun itu adalah menjawab salam, maka ia harus memulai dengan ta’awwudz lagi.


Kewajiban Tajwid dan Tartil

Membaca al-Qur’an dengan tajwid hukumnya wajib dimana ketika dilakukan akan menghasilkan pahala dan ketika ditinggalkan akan beresiko dosa. Yang dimaksud tajwid disini minimal adalah Tajwid ‘Amaly, yaitu mengaplikasikan hukum-hukum lafadh al-Qur’an. Meskipun seorang pembaca al-Qur’an tidak mengetahui tajwid secara teoritis, akan tetapi ia berkewajiban mempraktekkan bacaan bertajwid dari hasil talaqqi-nya dengan guru yang ahli membaca al-Qur’an bertajwid.

Adapun yang dimaksud dengan tartil adalah membaguskan huruf, mengucapkan kalimat-kalimat dengan jelas, mengetahui waqaf, thuma’ninah, tadabbur, membaca pendek di tempat pendek dan membaca panjang di tempat panjang, membaca tafkhim di tempat tafkhim, membaca tarqiq di tempat tarqiq, membaca idgham di tempat idgham, membaca ikhfa’ di tempat ikhfa’ dan lain sebagainya.

Imam al-Jazary menyatakan :

والأ خذ با التجويد حتم لا زم # من لم يجود القرأن اۤثم

لأنه به الا له انزلا # و هكذا منه الينا و صلا

  وهو إ عطاء الحروف حقها # من صفة لها ومستحقها                                          

                                                           

Demikianlah, tajwid dan tartil hukumnya wajib dalam membaca al-Qur’an karena memang sejak awal al-Qur’an turun kepada Rasulullah secara mujawwad dan murottal. Terutama, dalil al-Qur’an jelas mengatakan :

ورتل القران تر تيلا

 

Rukun-Rukun Al Qur’an

Seorang pembaca Al Qur’an perlu mengetahui rukun-rukun Al Qur’an sebagai berikut :

Keshahihan sanad

Mengetahui rosm utsmaniy (Cara penulisan al-Qur'an universal)

Bacaannya sejalan dengan ilmu nahwu meskipun dha’if


Qiraat dan Sanad

Qiraat adalah jama’(bentuk plural) dari “Qira’ah” yang berarti “bacaan”. Ini adalah masdar dari Qara’a.  Menurut istilah ilmiah, Qiraat adalah salah satu madzhab (aliran) pengucapan al-Qur’an yang dipilih oleh seorang imam Qurro’ sebagai suatu madzhab yang berbeda dengan madzhab lainnya.

Qiraat ini ditetapkan berdasarkan sanad-sanadnya sampai kepada Rasulullah. Berikut nama-nama imam Qiraat yang dianggap paling mu’tamad (dapat diandalkan).

Tingkatan Sahabat :

Ubay bin Ka’ab

Ali bin Abi Thalib

Zaid bin Tsabit

Abdullah bin Mas’ud

Abu Musa Al’asy’ary

Usman bin Affan

Abu Darda’

Dari sahabat-sahabat tersebut, para sahabat lain belajar Qiraat. Dari sini, Qiraat dihubungkan hingga masa-masa setelahnya.

Tingkatan Tabi’in:

Tersebutlah suatu generasi yang membulatkan tenaga dan perhatiannya terhadap masalah Qiraat secara sempurna sehingga mereka menjadi imam dan ahli Qiraat yang diikuti dan dipercaya sampai kini hingga seluruh dunia. Mereka itu adalah imam tujuh yaitu :

Abu ‘Amr Ala’ (Zabban/Yahya bin Ala’ bin Amr al-Basri)

Nafi’ bin Abdurrahman

Asim bin Abun Najud 

Hamzah bin Habib

Abdullah bin ‘Amir

Abdullah bin Katsir al-Makki

Al-Kisa’i (Ali bin Hamzah)


Dari imam-imam tersebut, Qiraat diriwayatkan kembali oleh para perawi sebagai berikut :

Ad-Dauri dan As-Susi dari Imam Abu ‘Amr

Qalun dan Warasy dari Imam Nafi’

Syu’bah dan Hafsh dari Imam Asim

Khalaf dan Khalad dari Imam Hamzah

Hisyam dan Ibn Zakwan dari Imam Ibnu Amir

Al-Bazi dan Qunbul dari Imam Ibn Katsir

Abul Haris dan Hafs ad-Dauri dari Kisa’i


Di Indonesia Qiraat yang banyak dipakai adalah Qiraat Imam Asim dari rawi Hafsh. Berikut beberapa contoh perbedaan Qiraat Asim dengan Qiraat lain :

ملك : Asim membaca    ما لك  , dan sebagian imam lain membaca  ملك.

فرا شا : Asim / Hafsh membaca ra’ dengan tafkhim, sedangkan Warasy membaca tarqiq.

اتخذتم & إ ذ تبرأ  : Ashim dan Ibnu Katsir membaca idhar pada huruf dzal sedangkan yang lain ada yang membaca idzgham.

فقد ظلم -  لقد جاء كم -  فقد ضل – إ ذ تأ تيهم – بما رحبت ثم – أقلت سحا با – أو رثتموها – نضجت جلو دهم - حصرت صدورهم - ولقد ذرأنا -  بل زين – حرمت ظهورها – قد صدقتنا – قد ضلوا – إ ذ دخلوا – إذ سمعتموه

Ashim membaca idhar sedang yang lain membaca idzgham.

غُرْفَةً – لاَ تُضَا رَّ – وَاتَّخِذوُا  : ada yang membaca    غَرْفَةً – لَا تُضَا رُّ – وَاتَّخَذوُا

عواجا   قيما        : Ashim membaca saktah tanpa bernafas, yang lain ada yang membaca tanwin.

Nun ‘Iwadh : Ashim membaca kasroh, yang lain ada yang membaca dhummah.

لكنا هو : Ashim membaca pendek, Ibnu Amir menetapkan mad.

الحميدِ o اللهِ – أفا ئن مِتَّ – بمَلكنا – المُخْلَصِيْن – يَبْنؤ مَّ – يَكْذِبُون – دَائِرة السَّوْءِ – و ثمودَا – ويَتَّقْهِ – رَبْوة  -سَيْناء – مجريها (إمالة) – إِ نيهُ (بفتح النون) – آلله خير – للعلِمِين – جَذْ وة – سلسلاَ – فألقِهْ إِليهم – فَكِهِين – أَيُّهَ الثـقلين – لأتوها (بمد الهمزة)                                                                                                       

Menurut Qiraat lain menjadi :    

الحميدِ o اللهُ - أفائن مُتَّ – بمِلكنا / بمُلكنا -  المخلِصين – يبنؤ مِّ - يُكَذّبُون – دائرة السُّوْء - وثمودًا     -    ويتَّقِهْ / ويتَّقْه (بمد الهمزة) – رُبوة –  سِيْناء – مجريها (فتحة) –  إ نيه (إما لة) – أألله خير (تسهيل)  – للعلَمين -  جِذ وة – سلسلاً – فألقه إليهم (مد جائز منفصل) – فكهين (بمد الفاء) – أَيُّهُ الثـقلين – لأَتوها (بقصر الهمزة)            

عليهُ & أنسا نيهُ : hanya Hafsh yang membaca ha’ dengan syakl dhummah

Dan lain-lain.

Bagi seorang Qori’, mengetahui sanad dari bacaan yang dimilikinya sangatlah penting. لولا السند لقال من شاء ما شاء “Kalau tidak ada sanad, setiap orang bisa berkata sekehendaknya”. Bacaan al-Qur’an adalah sesuatu  yang diajarkan secara bersambung yang jika dirunut harus sampai kepada Rasulullah sang penerima wahyu. Bahkan, ketika seseorang menemukan suatu bacaan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab (ilmu nahwu) akan tetapi ia memiliki dasar talaqqi yang kuat, maka yang dimenangkan adalah apa adanya bacaan yang merupakan hasil belajar yang diterimanya dari ahli-ahli al-Qur’an secara langsung (musyafahah).

Bagaimana jika kita hidup di masa ini sedang sanad sudah terlalu panjang dan kita tidak dapat menghafal sanad secara lengkap? Jawabannya adalah kita tetap wajib merunut dari mana asal cara baca kita. Akan tetapi, untuk sekadar menggugurkan kewajiban mengetahui sanad, cukup dengan mengetahui 5 tingkat guru di atas kita.

Di Jawa sendiri, sanad al-Qur’an yang dianggap paling mu’tamad ialah jika sambung kepada dua ‘alim berikut:

KH. Munawwir, Krapyak

KH. Mahfudh, Termas

Jika bermuara kepada dua hafidh tersebut, maka sanad sudah bisa diterima meskipun tidak sampai 5 tingkat guru karena tingkat-tingkat di atas kedua kiai tersebut adalah sanad yang selamat.

Di Indonesia saat ini, qiraat yang beredar mayoritas adalah qiraat madaniyyah (dari Madinah). Apabila terdapat qiraat yang perbedaannya terlalu jauh dengan bacaan yang umum di sekitar kita, maka qiraat tersebut biasanya adalah qiraat mishriyyah (dari Mesir).  


Masalah Roddul Ayat

Kita sering tahu banyak doa-doa atau bacaan-bacaan yang dibaca setiap kali kita sampai pada akhir suroh tertentu atau ketika sampai ayat tertentu. Sebagian orang yang tidak tahu mungkin tidak menerima bacaan tersebut karena dianggap menambah-nambahi al-Qur’an. Padahal, menanggapi suatu ayat dengan membaca lafadh tertentu adalah sesuatu yang baik dan dianjurkan oleh Rasulullah saw. Itulah yang dinamakan “Roddul Ayat”.

Roddul Ayat berawal dari suatu peristiwa pada masa Rasulullah dimana beliau membacakan al-Qur’an kepada para sahabat lalu mereka hanya mendengarkan dan diam tanpa mengucapkan apa-apa. Lalu Rasulullah menegur para sahabat dan mengatakan bahwa bangsa jin jauh lebih baik tanggapannya ketika mendengar suatu ayat, yaitu dengan melontarkan doa-doa dan pujian-pujian kepada Allah sebagai jawaban dari al-Qur’an yang mereka dengar. Allah berfirman :   

وإ ذا قرئ القرأن فاستمعوا له وأنصتو ا لعلكم ترحمون

Ayat tersebut menggunakan kata   أنصتوا   dan bukan اسكتوا    karena “sakata” hanya berarti diam sedangkan “anshota” ialah diam yang memiliki makna menghayati sambil merespon dengan respon yang baik. Selanjutnya, beberapa hadits yang menjadi dasar adanya Roddul Ayat adalah sebagai berikut :

عن جا بر قال خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم على الصحابة فقرأ عليهم سورة الرحمن من أولها إ لى اخرها فسكتوا فقال لقد قرأتها على الجن فكانوا أحسن مردودا منكم . الحديث . أخرجه الترمذي والحاكم .


عن عوف ابن مالك قال قمت مع النبي صلى الله عليه وسلم ليلة فقام فقرأ سورة البقرة لا يمر با ية رحمة إ لا وقف وسأل ولا يمر با ية عذاب إ لا وقف وتعوذ . رواه أبو داود ولا النساءي .



Hadits-hadits lain bahkan lebih jelas dan detail menunjukkan ayat-ayat yang menjadi tempat Roddul Ayat dan lafadh yang harus dibaca sebagai jawabannya. Dapat disimpulkan bahwa lafadh-lafadh Roddul Ayat adalah sebagai berikut.

Akhir suroh at-Tin         : membaca  بلى وأنا على ذلك من الشاهدين  

Akhir suroh al-Qiyamah : membaca بلى وهو قا در   

Akhir suroh al-Mursalat  : membaca امنَّا بالله    

Ayat سبح اسم ربك الأ على  : membaca سبحان ربِّيَ الأ على    

Akhir suroh al-Waqi’ah dan al-Haqqoh : membaca   سبحان ربي العظيم   

فبأي الاء ربكما تكذ با ن  : membaca  وَلَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذّ بُ فَلَكَ

الْحَمْدُ

Akhir suroh al-Mulk : membaca اللهُ رب العا لمين   

Akhir suroh ad-Dluha – an-Nas : membaca الله أكبر   

Akhir suroh al-Fatihah : membaca   رب اغفرلى امين / امين 

Akhir suroh al-Baqoroh : membaca  امين  

فيعذ به الله العذا ب الأكبر  : membaca رب أعذني من عذابك   

ثم إ ن علينا حسابهم  : membaca رب حا سبني حسابا يسيرا   

Akhir suroh al-A’la : membaca عليهما السلام   

Akhir suroh al-Qori’ah : membaca نسئل الله العفو والعا فية   


Penutup   

Demikianlah sekadar ringkasan tentang beberapa permasalahan yang penting diketahui oleh para pecinta al-Qur’an. Masih banyak yang belum sempat diulas dalam makalah ini. Semoga yang sedikit ini dapat memberi manfaat. Wallahu a’lam bishshowab.


Referensi

Al-Khattan, Manna’ Khalil.1973. Mahabits Fi Ulumul Qur’an. Riyadh: Mansyurat Fi al-‘Ashr al-Hadist.


Maqolah Ust. H. Bunyamin Dachlan.


Sa’id, Abdul Hannan.1982. Taysirul Musykilat Fi Qiraatil Ayat. Jakarta.


            


Published with Blogger-droid v2.0.2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar