Oleh : Hj. MAULUDIYAH
Dalam KAJIAN QUR'ANY JMQH MARGOYOSO
Kata Pengantar
Zaman era globalisasi ini betul-betul memerlukan perhatian yang serius, terutama di dunia pendidikan dengan banyaknya fenomena kehidupan yang sudah diluar dari tatanan susila kemanusiaan, serta ketimpangan-ketimpangan, sehingga kehidupan di kota maupun di desa terjadi kesenjangan baik sosial, ekonomi maupun kemasyarakatan. Dan dengan ini, kami ikut terpanggil dan andil dalam mengurangi beban para pendidik, orang tua ditinjau dari tanggung jawab sisi agama maupun tanggung jawab sebagai warga negara dengan menyajikan sekadar makalah yang insya Allah berguna untuk anak-anak didik atau putra-putri kita.
Bagaimana tata cara atau perilaku yang harus dilakukan sehari-hari yang baik dan benar supaya anak menjadi anak yang baik dan sopan yang tentunya diharapkan agar bisa mendorong harmonisnya kehidupan keluarga yang sakinah, taat perintah agama serta menjauhi larangannya supaya tercapai sa’adah fii daroini.
I. ADAB PADA ORANG TUA
Anak sejak kecil harus sudah dididik dengan tata krama/perilaku yang baik supaya tidak menyesal di hari kemudian. Kita sebagai orang tua harus bisa menjadi contoh sikap dan tingkah laku bagi anak kita karena orang tua adalah figur dan cermin bagi anak-anaknya. Orang tua itu bagaikan kayu dan bayang-bayang. Bagaimana bayang-bayang bisa lurus apabila kayunya bengkok?
يَسْتَقِيْمُ الظّلُّ وَالْعُودُ اَعْوَجُ كَيْفَ
Dan anak itu merupakan rahasia bapaknya karena watak orang tua itu menjadi cerminan anaknya. Maka dari itu, warnailah keluargamu dengan watak dan perilaku yang baik. Allah telah berfirman:
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوا قُوا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَا راً
Artinya :
“Hai orang –orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari neraka”.
Sebagai tindak lanjut firman tersebut yang paling tepat adalah kita harus bisa mendidik anak-anak kita dengan budi pekerti yang baik.Tersebut dalam hadits :
اَلْخُلُقُ الْحَسَنُ يُدْخِلُ صَا حِبَهُ الْجَنَّة َ [الحديث رواه الديلمى]
Artinya :
“Budi baik bisa memasukkan pada si empunya ke surga.”
Mengingat begitu besarnya arti budi pekerti yang baik sampai Nabi Muhammad saw. bersabda :
خَيْرُ مَا اُعْطِيَ النَّا سَ خُلُقٌ حَسَنٌ
Artinya :
“Sebaik-baik sesuatu yang di berikan pada manusia adalah budi pekerti yang baik.”
Memang kalau di pikir-pikir secara detail, budi pekerti yang baik merupakan titik kulminasi segala perbuatan kita karena orang sepandai apapun, katakanlah sudah “Natas Angin” umpama, tanpa mempunyai budi pekerti, maka sia-sialah kepandaiannya.
مَنْ لَيْسَ الَادَبَ فَهُوَ كَا لذُّ بَا بِ
Nabi Muhammad saw. bersabda :
اَكْمَلُ الْمُؤْ مِنِيْنَ اِيْمَا نًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَا رُكُمْ لِأَهْلِهِ. الحديث (رواه أبى داوود عن أبى هريرة)
Artinya :
“Iman seseorang dianggap sempurna apabila seseorang itu baik budi pekertinya, dan yang dianggap orang pilihan adalah orang yang dianggap terpilih baik pada keluarganya (orang tuanya)."
مَنْ وَقَرَّ ا يا ه طا ل عمره ومن وقر امه رأى ما يسره
"Siapa yang menghormati bapaknya, maka akan diberi umur panjang. Dan siapa yang menghormati ibunya, maka akan menemukan kemudahan dalam hidupnya."
Maka warnailah anak-anakmu dengan perwatakan dan perilaku yang baik sejak kecil. Nabi Muhammad saw. bersabda :
مُرُو اَوْلَا دَكُمْ وَهُمْ اَيْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ اَيْنَاءُ عَشَرَ
Artinya :
“Didiklah (sholat) anak-anakmu sejak umur 7 tahun, dan pukullah bila sampai 10 tahun belum mau.”
Jadi, sejak kecil anak harus dididik kedisiplinan, taat beribadah, sopan, dan taat orang tuanya. Anak-anak kita, kita didik dengan berbicara yang halus, unggah-ungguh, kesopanan, misalnya jika ada orang tua duduk di bawah, anak jangan duduk di atas. Orang tua sedang istirahat/tidur, anak jangan membuat keramaian yang mengganggu ketenangan orang tua. Dan apabila orang tua sedang marah, maka anak jangan sampai ikut berbicara. Anak lewat di depan orang tua harus permisi dulu. Nabi pernah bersabda :
اِنَّ حَقُّ الْوَالِدِ عَلَى الْوَلَدِ اَنْ يَخْشَعَ لَهُ عَنِ القَضِيَ
Artinya :
“Sesungguhnya hak orang tua yang harus di tepati anaknya yaitu diam apabila orang tua sedang marah.”
Begitu tuntunan Nabi pada kita ummatnya yang sepantasnya harus mencontohnya .
II. MENGATUR WAKTU
Sejak kecil anak harus dilatih berdisiplin membagi waktu, supaya tidak ada waktu yang terhambur-hambur tiada guna apalagi pada usia balita yang banyak berpengaruh pada perkembangan psikologis kehidupan selanjutnya.
Maka, anak jangan dibiarkan main-main ke mana-mana sampai lupa makan, belajar, sholat, dan kegiatan penting lainnya. Orang tua harus mengontrol dan menegurnya. Apabila waktu itu kita gunakan dengan tepat dan efisien, maka umur kita jadi barokah, artinya, umur kita bisa memproduksi banyak sekali hal yang bermanfaat. Seperti apabila waktu mengaji, belajar, dan kegiatan lainnya harus benar-benar diperhatikan. Apabila menjelang shubuh sudah siap-siap lebih dulu, lebih utama apabila sholat sunnah 2 rokaat sebelumnya.
Nabi bersabda :
صَلَاةُ الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّ نْيَا وَمَا فِيْهَا
Artinya :
“Sholat fajar lebih baik dari pada dunia beserta isinya.”
Setelah itu membaca, لَااِلهَ لّاَ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ × 100Insya Allah dijamin akan mati khusnul khotimah. Dan setelah sholat shubuh membaca: يَا فَتَّاحُ × 100dengan memegang dada kiri dengan tangan kanan. Faedahnya Insya Allah akan terbuka hatinya, mudah menerima pengetahuan dan cerdas.
Setelah itu biasakan membaca al-Qur'an walaupun hanya satu ayat. Dan ajari membantu orang tua, mempersiapkan pelajaran dan yang dibutuhkan untuk sekolah. Ajari untuk mempersiapkan dahulu, kemudian diteliti dan diatur dengan rapi. Seperti ngendikane tiyang sepuh:
كفا ن ارف علا كو ني افا واهي كودو دي طا طا أ تيني, تا تا ك, توتوك
Dalam arti apabila kita akan melakukan sesuatu, harus di persiapkan dahulu, kemudian diteliti : sudah benarkah? Belum atau tidak benar? dan setelah itu anak diajari untuk berani mengutarakan sesuatu di hadapan orang lain, berkenalan, mengutarakan masalah, dll. Maka akan sampailah kita pada apa yang kita harapkan (kita tuju).
III. WAKTU BELAJAR
Apabila hendak pergi sekolah persiapkan dulu alat-alat sekolah, berpakaianlah yang rajin, karena kebersihan dan kerajinan bisa mendorong semangat belajar. Seperti dalam pepatah:
مَنْ نَظَفَ ثَوْبَهُ قَلَّ هَمُّهُ # وَمَنْ طَا بَ رِيْحُهُ زَادَ عَقْلُهُ
Artinya :
“Siapa yang bersih pakaiannya maka sedikit kerusakannya. Siapa yang harum baunya maka bertambahlah akalnya.”
Jadi, kebersihan, kerapian, kedisiplinan, adalah faktor yang mendorong mudahnya belajar.
Apabila hendak pergi menuntut ilmu, baik sekolah maupun mengaji, sebaiknya permisi atau pamit pada kedua orang tua dengan mengucapkan salam. Dan apabila diberi bekal harus diterima dengan senang hati, apabila bekalnya sedikit maka harus diterima dengan sabar. Apabila banyak jangan dihambur-hamburkan.
اَلْحُرُّ عَبْدٌ اِنْ طَمَعْ # وَالْعَبْدُ حُرُّ اِنْ قَنَعْ
Artinya :
“Orang merdeka bila tamak bagaikan budak.Dan budak bila menerima sesuatu dengan senang hati(tidak tamak)bagaikan orang merdeka.” Dalam artian, biarpun budak bila tidak tamak, maka hidupnya akan tenang, bebas, dan merasa kaya. Sedangkan orang merdeka, bila selalu tamak maka hidupnya akan terkendali nafsu ketamakan dan keserakahannya. Mereka tak pernah merasa puas dalam hidupnya. Jadi, Qona’ah itu bagaikan punya gedung yang kokoh yang tak pernah rusak.
اَلْقَنَا عَةُ كَنْزٌ لَا يَفْنَى
Bila diberi pelajaran oleh guru, perhatikan sepenuhnya. Jangan merasa bisa. Walaupun yang disampaikan guru itu sudah pernah didengar sebelumnya.
Di waktu belajar, memiliki rasa optimis dan tak pernah merasa puas itu boleh-boleh saja. Karena itu akan menggugah semangat kita untuk belajar lebih giat. Kata Imam Syafi’i :
تَفَقَّهُوْ قَبْلَ اَنْ تُسَوَّ دُوْا
Artinya :
“Carilah ilmu sebanyak-banyaknya sebelum kamu menjadi orang yang mulia.”
Konsentrasikan daya fikirmu untuk menghadapi apa yang ditanyakan guru. Dan gunakan waktu sebaik-baiknya untuk bekal di hari kemudian.
Di dalam belajar, tentu bergaul dengan teman-teman. Oleh karena itu, janganlah berhati bengis, dengki, iri, yang sifatnya ingin menjatuhkan teman sendiri. Bersifatlah ramah dan tidak mudah tersinggung terhadap sesama teman.
اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْحَلِيْمَ الْحَيَّ وَيَبْغَضُ الْفَا حِشَ الْبَذِيَ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah senang terhadap orang yang bersifat aris (peramah) dan yang mempunyai malu. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat jelek yang menjadikan engkau menjadi rendah/nista."
Kita diciptakan Allah dengan harkat yang sama, tidak ada bedanya antara satu dan lainnya. Yang membedakan yaitu tingkat ketaqwaan kita. Maka bila hatimu ingin sombong, ingatlah kejadianmu, dari apa kau diciptakan! dari setetes air yang hina. Betul, kan?
IV. KEMBALI DARI FORUM BELAJAR
Apabila belajar mencari ilmu telah selesai, segeralah kembali ke tempatmu. Misalnya sekolah yang pulang ke rumah sendiri. Bila ngaji maka kembali ke pondoknya sendiri. Jangan pergi ke mana-mana yang tidak ada gunanya, yang nantinya akan menyusahkan hati orang tua. Bila sampai di rumah ganti pakaian dan bantu orang tua. Begitu pula dengan anak pondok, bila pulang ke rumah, jangan mampir-mampir ke rumah teman kalau tidak mendapat izin dari pengasuh.
V. ADAB DI RUMAH
Kalau di rumah, sikap sopan santun terhadap orang tua harus dijaga. Juga kepada saudara, famili, dan tetangga. Ciptakan suasana keakraban antar mereka. Jangan seperti kucing belang dan si tikus yang saling berebut, tak pernah akur. Yang lebih tua mengasihi yang muda, yang muda menghormati yang tua. Yang tua (kakak) bisa memberi contoh pada adiknya. Begitu pula adik harus sayang dan hormat pada kakaknya. Jangan sering bertengkar sesama saudara. Nabi bersabda :
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَ نَا وَلَمْ يُوَقِّرْ كَبِيْرَ نَا
Artinya :
“Tidak termasuk umatku apabila yang lebih besar tidak mengasihi yang kecil, dan yang kecil tidak menghormati yang besar.”
Apabila kamu termasuk keturunan seseorang yang mempunyai kedudukan di masyarakat janganlah menyombongkan diri karena bola dunia selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas. Bila posisi di atas kadang seseorang lupa diri dan jika saat berada di bawah seseorang harus bersabar. Seperti apa yang telah beliau [Mbah Kyai Bisri Mushthofa ] katakan bahwa “Pangkat gampang minggat, sugih keno mulih, alim gampang owah molah malih“.
Jangan seperti sifatnya orang ‘Idhomi yaitu orang yang menyombongkan diri karena keturunannya, merasa keturunannya paling tinggi, darah biru, paling ngetop, atau digdaya, atau milyarder, lalu sombong sampai lupa diri. Seperti dalam sebuah syair :
لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُولُ اَبِى # وَلَكِنَّ الفَتَى مَنْ يَقُولُ هَا اَنَا
وَخَيْرُ الْخَلْقِ ذُوْ شَرَفٍ عَظِيْمٍ # اَقَا مَ لِنَفْسِهِ شَرَفًا حَدِيْدًا
وَشَرُّ النَّاسِ ذَوُوالْحَمُولِ # اِذَا فَا خَرْتَهُمْ ذَكَرُوالْجُدُودَا
# Pemuda yang sesungguhnya bukanlah pemuda yang mengatakan “ini lho bapakku” (menyombongkan orang tuanya). Tapi pemuda yang sesungguhnya ialah pemuda yang mengatakan “inilah sesungguhnya diriku” (tunjukkan prestasi diri sendiri).
# Sebaik-baik makhluk ialah orang yang mempunyai keutamaan yang diwariskan orang-orang dulu, tapi mau meningkatkan ke anak dunia baru yang lebih kritis, meningkat ke arah kemajuan.
# Sejelek-jelek manusia ialah orang yang tidak terkenal. Bila diajak melangkah ke arah kemajuan, mereka selalu menyebut nenek moyangnya. Tapi mereka sendiri tak mau bergerak.
Bisa diambil kesimpulan, kita tidak boleh mengandalkan orang tua. Kita harus mandiri meraih apa yang kita cita-citakan. Semoga Allah mengabulkannya. Amin, ya Mujibas sa’ilin.
VI. ADAB DENGAN GURU
Segala perintah guru harus kita taati dan kita ikuti. Kita harus bersikap sopan, hormat, dan tak lupa mendoakan sehabis sholat. Segala yang dilarang kita jauhi, kecuali jika yang diperintahkan bertentangan dengan hukum Allah. Apalagi guru yang mendidik hati dan roh kita, wajib kita hormati sampai mati. Ingat selalu jasanya. Jangan pernah menyebut : “itu mantan atau bekas guruku.”
Ibu kita juga termasuk guru kita dalam hidup. Maka sangat beruntunglah orang yang masih punya ibu. Dalam Ta’limul Muta’allim disebutkan :
وَمِنْ تَعْظِيْمِ اْلعِلْمِ تَعْظِيْمِ الْعَا لِمِ وَاَهْلِهِ
Artinya :
“Termasuk orang yang mengagungkan ilmu adalah orang yang mengagungkan atau menghormati gurunya.”
VII. ADAB DENGAN TAMU
Apabila di rumah ada tamu, tingkah laku kita harus sopan, jangan membuat gaduh suasana. Bila ada kebutuhan yang sangat mendesak, maka panggillah ibumu atau bapakmu dengan cara sopan. Bila masih bisa ditahan, tunggu sampai tamu itu pulang. Tamu harus kita hormati. Nabi pernah bersabda :
مَنْ كَا نَ يُؤْمِنُ بِا للهِ وَا لْيَوْمِ الَاخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Artinya :
“Barang siapa percaya pada Allah dan hari kiamat, maka mulyakanlah tamumu.”
Ketika tamu sudah pergi, janganlah berebut jamuannya. Bagaikan ikan berebut makanan, membuat malu orang tua. Kecuali kalau orang tua sudah menyuruh, ambillah sisa penjamuan itu, karena itu sisa orang ‘alim, dengan niat tafa’ul biar mendapat barokahnya. Lalu dibagikan pada saudara-saudara kita semua supaya rata. Begitulah di antaranya kita menghormati tamu.
Sebagai seorang ibu, kita harus bisa mendidik anak yang baik dan memberi contoh yang baik pada anak-anak kita. Ibu adalah guru yang paling utama, yang mendasar sebelum anak terdidik di sekolah maupun sudah terdidik di sekolah. Ibu berperan utama sebagai pengasuh dan pengawas anak-anak setiap harinya. Seperti pepatah :
اَلْاُمُّ اُسْتَاذُ الْعَا لَمِ
Artinya : “Ibu adalah guru seluruh alam”.
Ibu adalah guru dalam segala fase kehidupan. Mulai kecil, anak-anak, remaja, sampai dewasa.
VIII. SIKAP DAN PERILAKU
Kita sebagai anak Islam harus waspada tehadap keadaan zaman sekarang yang dipengaruhi arus modernisasi dan globalisasi yang menggiurkan otak manusia ke jalan yang tidak benar. Na’udzubillah min dzalik.
Mencari ilmu penting sekali. Mengikuti arus zaman juga baik, tapi kita harus punya filter yang membedakan mana yang banyak manfaatnya dan mana yang banyak madhorotnya. Apalagi di zaman teknologi canggih ini, kita harus bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang jelek.
Orang tak berilmu bisa hidup tapi seperti barang mati. Ilmu saja tak cukup kalau tanpa ditindak lanjuti dengan perilaku dan sikap yang sopan, baik bagi siapapun yang kita hadapi. Banyak orang pandai tak berperilaku baik terhadap orang tua. Mereka menganggap bahwa orang tua itu kuno, tidak berpengalaman, dan katrok.
Coba renungkan, ingatlah para pejuang dulu, orangnya pandai tapi tak pernah membanggakan kepandaiannya. Lihatlah seperti Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Diponegoro, dll. Semua pejuang pembela bangsa dan tanah air kita. Mereka selalu sopan, memakai kopyah, kerudung kepala, lain dengan anak sekarang, yang menganggap orang pakai kopyah itu katro, kuno, klutuk, dan sebagainya. Boleh anda memperlihatkan rambut anda yang bagus, namun harus tahu sikonnya. Bila kumpul para kiai, waktu sholat, kenduri, sebaiknya memakai kopyah. Tidak seperti syairnya mbah kiai Bisri : “Ora nuli melancong gundul, sholat gundul, sowan morotuo gundul, nguyuh gundul”. Artinya : “Bukan tidak pakai kopyah di sembarang tempat, antara waktu kerja, pergi ke orang tua, sowan mbah kiai, dicampur-adukkan. Itu namanya tidak bisa menyerasikan sikon.
Jangan sekali-kali membanggakan dirimu sendiri dengan hati sombong, takabbur. Allah telah berfirman:
فَلَا تُزَكُّوْا أَنْفُسَكُمْ
Artinya:
“Jangan kau membersih-bersihkan dirimu sendiri”. Termasuk merasa sok suci, seakan tak punya dosa, tak pernah salah. Melihat teman yang baru salah atau lalai malah diejek dan tak mau mendekat, apalagi menasihati.
Di dalam beribadah kita harus berpakaian yang suci, sopan, dan tempat yang suci juga.
يَا اَيُّهَا الَّذِ يْنَ امَنُوا خُذُو زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, ambillah pakaianmu ketika akan ke masjid (sholat)". Bukan malah sebaliknya. Bila akan pesta, resepsi, bajunya bagus-bagus, tapi kalau akan sholat malah jelek dan kotor.
IX. CITA-CITA LUHUR
Orang hidup harus mempunyai cita-cita dan tujuan. Tanpa itu tidak ada gunanya kita hidup. Cita-cita yang tinggi bisa tercapai dengan kesabaran, ketekunan, rajin berpikir positif, berpola pikir yang besar, (The positif thinking, The big thinking), menelusuri keberhasilan orang lain, untuk dijadikan tolok ukur pencapaian keberhasilan diri kita. Seperti kata pepatah arab :
مَنْ جَدَّ وَجَدَ ، وَمَنْ لَجَّ وَلَجَ ، وَمَنْ طَرَقَ بَا بًا حَرَجَ
Artinya :
“Siapa yang tekun akan dapat, Siapa yang teguh akan memperoleh, dan sipa yang selalu mengetuk pintu tentu akan di bukakan.”
Untuk mencapai ilmu harus belajar. Untuk mencapai akhlak yang baik harus dengan perilaku yang baik dan sopan. Orang yang berilmu akan di angkat derajatnya oleh Allah. Firman Allah:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ امَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوتُواالْعِلْمَ دَرَجَا تٍ
Artinya :
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.”
Cita-cita itu harus setinggi mungkin. Sebab kita sebagai generasi penerus, yang mengikuti perkembangan zamannya, kita akan ketinggalan bila tidak mengikuti perkembangan yang kita hadapi. Sebagai penerus orang tua harus punya surplus skill, bakat khusus yang kita olah sesuai dengan sumber daya kita masing-masing.
قَا َل بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : اَلْهِمَّةُ رَايَةُ الْجَدِّ
Artinya :
“Cita-cita yang luhur itu tandanya kekayaan.”
Banyak ahli sastra yang mengatakan “cita-cita yang luhur adalah benih dari beberapa kenikmatan”
Jadi kalau begitu, cita-cita luhur itu penting untuk mencapai keberhasilan sesuai dengan fase bakat, SDM kita sendiri. Maka jadi orang tua jangan sekali–kali memaksakan kehendak, mewarnai anak yang tidak sesuai dengan bakat anak itu sendiri. Teruskan dan doronglah anak untuk arah kebaikan dan keberhasilan sesuai bakat yang ia miliki. Amin, semoga berhasil.
Demikianlah buku ini saya buat dengan harapan bisa dibaca, dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari walaupun sangat sederhana. Tak ada pemberian orang tua yang lebih utama daripada “Akhlakul karimah” (Akhlak yang mulia). Seperti apa kata sastrawan Arab :
اَلْفَضْلُ بِا لْعَقْلِ وَالْاَدَبِ لَا بِا لْاَصْلِ وَالنَّسَبِ
Keutamaan seseorang itu sebab kecerdasan akal dan budi pekertinya. Bukan sebab asal dan keturunannya. Akhirnya sampai disini, tiada gading yang tak retak.
Pustaka :
· Al Qur’anul karim :Tafsir jalalain al mawardi
· Adabun dunya wad Din :Syeh Abu hasan al Basri
· At Targhib wat Tahdzib :Syeh Muhammad Alwi al Maliki
· Ngudi Susilo :KH.Bisri musthofa
The Big Thinking to Fokus The Dream :William Antonius
Tidak ada komentar:
Posting Komentar